Manajemen Risiko Bank Syariah Dimasa Pandemi

Manajemen Risiko Bank Syariah Dimasa Pandemi - Covid 19 ini sudah menginfeksi ke semua dan  ke segala aspek, termasuk ke perbankan syariah. Tapi pertumbuhannya masih dikatakan baik walaupun kalah jauh dengan konvensional. Dan pergerakan market sharenya itu cenderung lambat. Dan itu menjadi tantangan bagi semua stake holders. Fungsi dan ketahanan bank syariah juga sudah berjalan cukup baik. Adanya covid 19 ini menunjukkan tanda tanda kecenderungan keburukan. 

Manajemen Risiko Bank Syariah Dimasa Pandemi

Manajemen Risiko Bank Syariah Dimasa Pandemi

Jaringan juga menjadi salah satu factor karena masih 1/12 dari bank konvensional. Jadi apakah bank syariah bertahan dalam kondisi kritis. Tidak ada jaminan bahwa bank syariah akan aman maka harus terus berusaha dan dilakukan manajemen resiko. Tidak hanya mengharapkan berkah tanpa usaha. Risiko muncul karena ketidakpastian itu tersirat dalam surah luqman. Manajemen risiko tidak terlepas dari kehati hatian. Keuntungan pasti disertai dengan risiko. 

Dalam perbankan syariah, risiko itu muncul dari variasi akad yang kita gunakan. Risiko di bank syariah lebih tinggi disbanding bank konvensional. Salah satu risiko yang berat adalah risiko reputasi. Karena adanya berbagai persepsi sebelumnya. Risiko likuiditas juga menjadi tantangan untuk bank syariah karena instrument dalam bank syariah itu harus berbasis syariah yang jumlahnya sangat terbatas. Dalam bank syariah risiko imbal hasil dana dinilai kurang kompetitif oleh nasabah. Oleh karena itu, bank syariah berisiko ditinggalkan oleh para nasabah. Lalu ada risiko investasi yang mana bank syariah harus menanggung kerugian nasabah yang dibiayai pembiayaan berbasis bagi hasil.

Covid 19 juga memberikan pengaruh terhadap lembaga jasa keuangan yaitu kinerja dan kemampuan sector riil, perubahan nilai asset dan juga interkoneksi antar lembaga keuangan. Untuk mengantisipasinya, yang harus dilakukan adalah menurunkan suku bunga acuan. Saat ini krisisnya adalah krisis social, ekonomi dan keuangan. Jadi risiko yang paling besar adalah risiko operasional yang berdampak ke likuiditas. Adapun yang bisa dilakukan untuk mitigasi operasional adalah bagaimana penanganan kepada yang menjalankan bisnis dan mitigasi kepada bisnis tersebut.

Jadi intinya ada tiga risiko yang dihadapi bank syariah saat ini yaitu risiko imbal hasil dana, risiko kredit dan investasi, dan risiko likuiditas. Dan yang perlu menjadi concern bank adalah kesehatan dan keselamatan pegawai bank itu sendiri. Jadi itu yang diutamakan dalam mitigasi. Bank juga perlu menjaga kecukupan modal lalu harus menjaga komunikasi terhadap seluruh stakeholders agar terhindar dari risiko reputasi.

Bank Indonesia sudah melakukan penurunan suku bunga beberapa kali, melakukan penurunan giro wajib minimum 2 kali, sudah melakukan stabilisasi di pasar surat berharga negara, juga sudah diberi mandate untuk membeli surat berharga di pasar primer. Lalu bank Indonesia juga melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah, pasar uang dan valas, pelonggaran likuiditas, dan pelonggaran makroprudensial. Bank Indonesia masih harus berjaga agar suku bunga masih positif real policy rate terhadap inflasi jadi tidak sembarangan menurunkan suku bunga.

Strategi dan mitigasi bank syariah di masa pandemic, perbankan syariah pertumbuhannya cukup bagus. Perbankan syariah memiliki bisnis yang dapat memitigasi yaitu adil, seimbang dan maslahat. Konsep syariah itu sangat bagus seperti konsep bagi hasil. Mitigasi ini dapat dirasakan dengan konsep bagi hasil tersebut karena terjadi secara natural. Bank syariah juga menjalankan adil, seimbang, mashlahat. Penghasilan di perbankan syariah juga menjalankan konsep zakat 2,5% sebelum penghitungan laba rugi. Ada juga zakat untuk umat dari dana perbankan syariah yang tanpa sengaja dapat memitigasi juga. Dengan konsep tersebut diyakinkan bank syariah akan tambah bagus kedepannya.

Pemerintah dan regulator juga memberikan stimulus. Strategi bank syariah untuk survive saat pandemic itu ada 4 yaitu :

1. Memanajemen pendapatan dengan baik

2. Pengendalian pengeluaran

3. Manajemen stakeholders

4. Infrastruktur pendukung

Dalam pandemic covid 19 perbankan syariah cukup survive yang menghasilkan perubahan yang positif. Terkait tranformasi digital perbankan, ojk juga menerbitkan beberapa peraturan baru. Dalam POJK No.13/POJK.03/2020 tentang penerapan manajemen risiko dalam penggunaan teknologi informasi oleh bank umum (POJK MRTI) menjelaskan bahwa :

1. Bank wajib menerapkan manajemen risiko secara efektif dalam penggunaan TI

2. Penerapan manajemen risiko paling sedikit mencakup :

    - Pengawasan aktif direksi dan dewan komisaris

    - Kecukupan kebijakan ,standar, dan prosedur penggunaan TI (SEOJK MRTI) = manajemen, pengembangan dan pengadaan, opersional TI, jaringan komunikasi, pengamanan informasi, rencana pemulihan bencana, layanan perbankan elektronik, penggunaan pihak penyedia jasa TI, penyediaan jasa TI oleh bank.

    - System pengendalian intern atas penggunaan TI

3.Penerapan manajemen risiko dilakukan secara terintegrasi dalam setiap tahapan penggunaan TI (pengadaan-pengembangan-operasional-penghapuasan-penghentian-pemeliharaan.

Dengan demikian, maka diharapkan bank syariah dapat dikatakan cukup bertahan dan cukup berhasil dalam menghadapi dampak covid 19.

Ditulis Oleh: Amia As Syifatul Hasanah (Mahasiswa STEI SEBI)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel