Strategi Manejemen Risiko Bank Syariah Indonesia dimasa Pandemi Covid-19

Strategi Manejemen Risiko Bank Syariah Indonesia dimasa Pandemi Covid-19 - Seiring dengan perkembangan perbankan syariah terdapat undang-undang tentang perbankan syariah yaitu UU No. 21 tahun 2008 yang memuat lebih rinci tentang perbankan syariah oleh BI dan Dewan Syariah Nasional yang semakin mendukung dengan penerapan ekonomi syariah di Indonesia saat ini. Sistem perbankan syariah aspek yang mengedepankan perkembangan perbankan saat ini juga dinilai sangat pesat. Kemajuan perkembangan perbankan syariah bukanlah tanpa tantangan dan halangan dan penuh dengan resiko yang dihadapi. 

Bagaimana Strategi Manejemen Risiko Bank Syariah Indonesia dimasa Pandemi Covid-19?

Strategi Manejemen Risiko Bank Syariah Indonesia

Sistem perbankan syariah dibangun dengan semangat dan inovatif sehingga harus berbeda dengan perbankan yang telah ada. Oleh karena itu, didalam sistem perbankan tidak hanya sekedar memakai istilah tetapi harus menjamin rasa aman terhadap nasabah, agar nasabah sendiri puas terhadap layanan yang digunakan. Sehingga hal yang perlu dilakukan adalah mekanisme pengawasannya perlu diperketat agar menjaga amanah dan kepercayaan nasabah dengan baik. 

Perbankan syariah sekarang dapat memiliki kemampuan manajemen yang dihadapi berbagai pesatnya perekonomian ekonomi dan canggihnya teknologi di era sekarang. Dengan adanya keadaan tersebut, maka berpotensi meningkatkan risiko terhadap perbankan syariah dan semua itu harus ditangani dengan baik. Terdapat beberapa macam manajemen risiko yang harus dilaksanakan sehingga ketika terjadi resiko hal tersebut bisa diatasi seperti risiko pembiayaan, likuiditas, operasional, dan risiko lainya. Setiap melakukan manajemen risiko sendiri sesuai dengan kebutuhan perusahaan tetapi mungkin manajemen risiko paling menonjol di risiko operasional. 

Terlebih lagi, pada masa covid-19 masa risiko datang dengan tiba-tiba dan belum tentu bisa dikendalikan, tuntutan dari peraturan pemerintah yang merubah segara kebiasaan masyarakat membuat perusahan sedikit kesusahan dalam menaggulanginya, salah satu strategi manajemen risiko operasional adalah dengan memperbarui sistem digital pada bank syariah. Sistem 4.0 tersebut menjadi hal yang seharusnya bisa diikuti, segala sistem berbentuk virtual tuntutan karyawan menglola digital dengan cekatan yang sangan dibutuhkan. 

Seperti yang kita bisa lihat beberapa kasus salah satunya adalah Risiko Operasional yang terjadi pada BNI Syariah KC Mataram saat masa pandemi Covid-19 ini. Resiko operasional adalah risiko dimana kerugian tersebut didasarkan pada akibat ketidakcukupan dalam proses internal, terkait dengan sistem dan manusia. Risiko operasional juga termasuk melingkupi adanya kegagalan pada kesalahan sumber daya manusia, sistem model analisis, dan teknologi. Dalam risiko operasional, apabila terjadi kesalahan pada suatu proses dalam mencapai target akibat kesalahan sistem, manusia adanya kesalahan prosedur kerja, atau akibat eksternal. 

Pada perbankan syariah, risiko operasional disebabkan jika bank syariah terdapat bentuk perjanjian khusus dan lingkungan yang umum, dan pada aspek khusus pada bank syariah ini dapat meningkatkan risiko operasional salah satu diantaranya adanya pembatalan salah satu kontrak akad, ketidakmampuan memenuhi pada pengendalian internal, pemeliharaan terhadap persediaan komoditas dalam pasar karena tidak liquid. Pada BNI Syariah kantor cabang Mataram khususnya, terdapat idetifikasi terhadap beberapa risiko yang telah terjadi maupun yang belum terjadi tetapi telah terjadi pada BNI syariah cabang lain. Risiko-risiko tersebut yaitu dari kesalahan karyawan bank bagian teller, karyawan bank yang melakukan fraud, nasabah melanggar akad, bencana dan kesalahan yang dilakukan saat analisis. Umumnya akibat kegagalan sistem, kegagalan internal, kesalahan manusia, dan adanya sebuah kejadian dari eksternal Bank.

Salah satu karyawan BNI Syariah KC Mataram mengatakan bahwa “Secara umum di perbankan rata-rata mengalami kasus yang sama diantaranya: Penutupan atau pembatasan kantor layanan, sehingga dilakukanlah pelayanan KCP disentralkan di kantor KC, Beban operasional meningkat, karena harus menyediakan Handsanitizer, Masker, Multivitamin, desinfektan yang disediakan dalam jumlah banyak untuk menjaga kesehatan lingkungan kantor terutama bagi para karyawan, Penurunan laba cabang, ini disebabkan oleh SDM yang terbatas dan daerah prospek juga dibatasi sehingga marketing tidak bisa optimal kinerjanya.” 

Dapat disimpulkan bahwa risiko operasional lebih kepada Nasabah seperti Penutupan atau pembatasan kantor layanan, sehingga dilakukanlah pelayanan KCP disentralkan di kantor KC. Selain itu resiko terhadap bank seperti Beban operasional meningkat, karena harus menyediakan handsanitizer, masker, multivitamin, desinfektan yang disediakan dalam jumlah banyak untuk menjaga dalam jumlah banyak untuk menjaga kesehatan lingkungan kantor terutama bagi kita karyawan dan penurunan laba cabang. Faktor-faktor yang menyebabkan adanya hal tersebut karena sebagian besar Pegawai yang terkadang tidak mematuhi protokol kesehatan. 

Selain itu, nasabah tidak cooperative mematuhi protokol kesehatan, kemudian karena pandemi Covid-19 ini usaha nasabah menurun dan menjadikannya tidak sanggup membayar seperti biasanya, pada akhirnya mereka mendapatkan relaksasi yang semula setorannya 3 juta ketika pandemi Covid-19 ini mereka hanya menyetorkan sebesar 500k yang tentunya menggerus laba bank. 

BNI Syariah KC Mataram berfokus pada dua faktor (faktor internal dan eksternal). Berikut cara yang dilakukan pihak BNI Syariah KC Mataram: Pertama, faktor internal yaitu dengan menggoptimalkan controlling atau pengontrolan bagi segenap pegawai terutama kesehatan karena bagaimana juga karyawan adalah aset terbesar yang dimiliki perusahaan. Kedua, Sedangkan untuk faktor eksternal yaitu dengan melakukan controlling juga yang dilakukan secara optimal mulai dari penanganan protokol standar kesehatan dan kebijakan setorannya hanya untuk mereka yang pengusaha (non fix income) jika mereka pegawai negeri sipil atau ASN (fix income) maka mereka tidak berhak mendapatkan relaksasi karena dari segi gaji juga tidak dipotong. 

Cara bank syariah menanggulangi risiko yang terjadi pada umumnya yaitu dengan melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap nasabah dan melakukan edukasi kepada nasabah tentang pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Bank Syariah juga memberikan edukasi kepada karyawan, pihak pusat juga akan memonitor dan mereview kepada kantor cabang-cabang BNI Syariah untuk melakukan pemantauan risiko-risiko yang terjadi.

Ditulis Oleh: Hikam Matulesi  (Mahasiswa Perbankan Syariah STEI SEBI)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel